LAPORAN BEST PRACTICE

IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN PENCEMARAN AIR MELALUI PENDEKATAN SAINTIFIK DENGAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING SISWA KELAS VII SMP HATI BILINGUAL BOARDING SCHOOL TAHUN PELAJARAN 2021-2022

Oleh :

ANDIKA BUDHI SANJAYA, S.Pd

NIY. 2015061002

BAB I

PENDAHULUAN

1. LATAR BELAKANG MASALAH

Pencemaran air merupakan salah satu permasalahan lingkungan yang semakin mendesak untuk diatasi. Air adalah sumber kehidupan yang penting bagi makhluk hidup, termasuk manusia. Namun, dengan perkembangan industri, urbanisasi, dan aktivitas manusia lainnya, kualitas air seringkali terancam oleh berbagai polutan seperti limbah industri, sampah plastik, bahan kimia berbahaya, dan lain sebagainya. Pencemaran air memiliki dampak serius terhadap ekosistem perairan dan kesehatan manusia.

Dalam konteks pendidikan, penting bagi siswa untuk memiliki pemahaman yang baik tentang isu lingkungan, termasuk pencemaran air. Namun, pembelajaran yang hanya bersifat konvensional dan teoritis seringkali kurang efektif dalam menyampaikan konsep dan implikasi nyata dari pencemaran air kepada siswa. Oleh karena itu, perlu adanya pendekatan pembelajaran yang inovatif dan interaktif untuk mengatasi permasalahan ini.

Pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang menekankan pada proses penemuan dan eksplorasi, sehingga siswa tidak hanya mendapatkan pengetahuan, tetapi juga keterampilan berpikir kritis dan analitis. Model pembelajaran Discovery Learning merupakan salah satu pendekatan saintifik yang mendorong siswa untuk belajar melalui eksplorasi dan penemuan mandiri. Dalam model ini, siswa diberikan kesempatan untuk menciptakan pemahaman mereka sendiri melalui observasi, eksperimen, dan diskusi.

SMP HATI Bilingual Boarding School merupakan lembaga pendidikan yang memiliki visi untuk menghasilkan siswa yang memiliki pemahaman yang mendalam tentang isu-isu global, termasuk lingkungan. Pada tahun ajaran 2021/2022, sekolah ini merencanakan untuk mengimplementasikan pendekatan pembelajaran yang lebih interaktif dan inovatif dalam mengajarkan isu pencemaran air kepada siswa kelas VII.

Latar belakang karya ilmiah ini muncul dari kesadaran akan pentingnya memberikan pemahaman yang mendalam kepada siswa tentang dampak pencemaran air dan upaya-upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah ini. Dengan mengadopsi pendekatan saintifik dan model pembelajaran Discovery Learning, diharapkan siswa tidak hanya memahami konsep-konsep dasar pencemaran air, tetapi juga mampu mengaplikasikan pemahaman tersebut dalam konteks nyata.

Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah Model Discovery Learning. Model pembelajaran penyingkapan/ penemuan (Discovery Learning) adalah memahami konsep, arti dan hubungan melalui proses intuitif untuk akhirnya sampai kepada suatu kesimpulan. Discovery terjadi bila individu terlibat terutama dalam penggunaan proses mentalnya untuk menemukan beberapa konsep dan prinsip. Discovery dilakukan melalui observasi, klasifikasi, pengukuran, prediksi, penentuan dan inferensi. Proses tersebut disebut Cognitive Process, sedangkan discovery itu sendiri adalah the mental process of assimilating concepts and principles in the mind (Robert B. Sund dalam Malik, 2001 : 219). Setelah melaksanakan pembelajaran dengan Model Discovery Learning, penulis menemukan bahwa proses dan hasil belajar siswa meningkat. Oleh karena itu penulis melaporkan perbaikan pembelajaran tersebut sebagai kegiatan Best Practice berjudul “Implementasi Pembelajaran Pencemaran Air melalui Pendekatan Saintifik dengan Model Problem Based Learning pada siswa kelas VII di SMP HATI Bilingual Boarding School Tahun Peljaran 2021/2022”.

2. JENIS KEGIATAN

Kegiatan   : melakukan kegiatan eksperimen, diskusi kelompok dan presentasi dengan Model Problem Based Learning.

3. MANFAAT KEGIATAN

Best Practice ini diharapkan dapat bermanfaat bagi :

  1. Guru, yakni untuk meningkatkan proses pembelajaran pada materi pencemaran air
  2. Siswa, yaitu untuk meningkatkan pemahaman dan hasil pembelajaran pada materi pencemaran air
  3. Meningkatkan kompetensi siswa dalam pembelajaran yang berorientasi HOTS.


BAB II

PELAKSANAAN KEGIATAN

1. TUJUAN DAN SASARAN

TUJUAN

Best Practice ini bertujuan untuk mendeskripsikan :

  1. Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning untuk membandingkan berbagai bahan pencemaran pada air
  2. Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning merupakan solusi terbaik dalam mengatasi permasalahan pembelajaran pada materi pencemaran air.
  3. Menginspirasi guru untuk mengembangkan materi dan melaksanakan pembelajaran dengan berorientasi pada kemampuan berpikir tingkat tinggi.

SASARAN

Sasaran Best Practice ini adalah siswa kelas VII Semester Genap SMP HATI Bilingual Boarding School

2. BAHAN DAN MATERI

Bahan dan Materi Kegiatan

Bahan yang digunakan dalam praktek pembelajaran ini adalah materi kelas VII untuk bab ekologi pada materi pencemaran air.

3.8 Menganalisis terjadinya pencemaran lingkungan dan dampaknya bagi ekosistem3.8.1 Mendeskripsikan konsep pencemaran 3.8.2 Mengelompokkan jenis-jenis pencemaran lingkungan 3.8.3 Menjelaskan pengertian pencemaran air 3.8.4 Mengidentifikasi faktor penyebab pencemaran air 3.8.5 Menganalisis dampak pencemaran air terhadap lingkungan 3.8.6 Merancang upaya penanggulangan pencemaran air
4.8 Membuat tulisan tentang gagasan penyelesaian masalah pencemaran di lingkungannya berdasarkan hasil pengamatan4.8.1 Membuat laporan hasil pengamatandengan Kajian literature tentang gagasanupaya mengatasi pencemaran lingkungan  

3. METODE/ CARA MELAKSANAKAN KEGIATAN

METODE

Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan dengan kurikulum terstruktur yang menghadapkan siswa pada permasalahan-permasalahan praktis dimana dikembangkan stimulus untuk pembelajaran. Model pembelajaran berbasis adalah model pembelajaran yang menantang siswa untuk belajar, bekerja secara kooperatif di dalam kelompok untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di dunia nyata. PBL mempersiapkan siswa berfikir kritis, analitis dan menemukan dengan menggunakan berbagai macam sumber. Pembelajaran berbasis maslaah adalah strategi pembelajaran yang menekankan belaajr aktif, juga dapat menggunakan modul kuliah (Pawson, 2006).

Pada pembelajaran berbasis masalah, guru sebagai fasilitator pembelajaran sebaiknya menghubungkan masalah yang dibahas dengan kurikulum yang ada. Namun, dalam hal ini, siswa juga diberi kesempatan memperluas permasalahan tentang apa yang ingin dipelajari dan ingin diketahui (Sumarmi, 2012). Lazimnya sebuah model pembelajaran, pembelajaran berbasis masalah memiliki langkah-langkah pembelajaran atau yang dikenal dengan istilah sintak. Berikut sintak pembelajaran berbasis masalah menurut Johnson (2007).

Sintaks Model Pembelajaran Berdasarkan Masalah

FaseIndikatorAktifitas / Kegiatan Guru
1Orientasi siswa kepada masalahGuru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistic yang diperlukan, pengajuan masalah, memotivasi siswa terlibat dalam aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya.
2Mengorganisasikan siswa untuk belajarGuru membantu siswa mendefenisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
3Membimbing penyelidikan individual maupun kelompokGuru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen, untuk mendapat penjelasan pemecahan masalah.
4Mengembangkan dan menyajikan hasil karyaGuru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, model dan membantu mereka untuk berbagai tugas dengan kelompoknya.
5Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalahGuru membantu siswa melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dalam proses-proses yang mereka gunakan.

Menurut Agnew (2001), dengan menerapkan pembelajaran berbasis masalah siswa akan belajar secara mendalam untuk memahami konsep dan mengembangkan keterampilan, siswa berpartisipas dan saling memotivasi dalam pembelajaran. PBL tidak hanya memberi pengaruh berupa keuntungan menyelesaikan satu pelajaran saja namun juga pelajaran lain yang ada di dalam kurikulum sekaligus bermanfaat untuk mengasah “Life Long Education”.

Sebagai suatu model pembelajaran, model pembelajaran berbasis masalah memiliki beberapakeunggulan, diantaranya;

  1. Pemecahan masalah merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran.
  2. Pemecahan masalah dapat menantang kemampuan peserta didik serta memberikan kepuasan untuk menentukan pengetahuan baru bagi peserta didik.
  3. Pemecahan masalah dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran peserta didik.
  4. Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik bagaimana mentrasfer pengetahuan mereka untuk memahami masalah dalam kehidupan nyata.
  5. Pemecahan masalah dapat membantu peserta didik untuk mengembangkan pengetahuan barunya dan bertanggungjawab dalam pembelajaran yang mereka lakukan.
  6. Melalui pemecahan masalah dianggap lebih menyenangkan dan disukai peserta didik.
  7. Pemecahan masalah dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru.
  8. Pemecahan masalah dapat memberikan kesempatan pada peserta didik untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam dunia nyata.
  9. Pemecahan masalah dapat mengembangkan minat peserta didik untuk secara terus menerus belajar.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa strategi pembelajaran berbasis masalah harus dimulai dengan kesadaran adanya masalah yang harus dipecahkan. Pada tahapan ini guru membimbing peserta didik pada kesadaran adanya kesenjangan atau gap yang dirasakan oleh manusia atau lingkungan sosial.

4. ALAT/ INSTRUMEN

Alat/ Instrumen yang digunakan adalah :

  1. Lembar Kerja Siswa.
  2. Instrumen yang digunakan dalam praktik ini ada 2 macam,

(a) instrumen untuk mengamati proses pembelajaran berupa lembar observasi

(b) instrumen untuk melihat hasil belajar siswa dengan menggunakan pelihan ganda.

5. WAKTU DAN TEMPAT KEGIATAN

Best practice ini dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2022 bertempat di SMP HATI Bilingual Boarding School Kraksaan – Probolinggo.

BAB III

HASIL KEGIATAN

Pada kegiatan pembelajaran pencemaran air dilakukan dengan penerapan model pembelajaran Problem Based Learning. Adapun langkah-langkah model pembelajaran tersebut adalah sebagai berikut : Langkah ke-1, Peserta didik dibentuk kelompok. Langkah ke-2, Peserta didik membaca modul secara mandiri dengan kelompoknya. Langkah ke-3, Peserta didik melakukan kegiatan eksperimen. Langkah ke-4, Peserta didik mengumpulkan data. Langkah ke-5, Peserta didik mengolah data yang telah diperoleh. Langkah ke-6, Peserta didik mempresentasikan hasil kerja kelompoknya. Langkah ke-7, Peserta didik menyimpulkan hasil eksperimen dengan bantuan guru.

Hasil Langsung yang dapat dilihat adalah hasil nilai akademik dari pembelajaran pencemaran air dengan model pembelajaran Problem Based Learning adalah sebagai berikut:

  1. Nilai akademik peserta didik mengalami kenaikan dalam pembelajaran ekologi sub bab pencemaran air.
  2. Minat belajar peserta didik menjadi lebih meningkat, hal ini dapat dilihat dari keaktifan dan antusiasme peserta didik di dalam pembelajaran.
  3. Sikap percaya diri peserta didik semakin meningkat terbukti saat mempresentasikan hasil kerja kelompok.
  4. Keberanian untuk bertanya semakin tinggi.
  5. Sikap gotong royong semakin berkembang karena terlatih bekerja sama dalam kelompok.


BAB IV

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

1. KESIMPULAN

Berdasarkan uraian di atas dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

  1. Pembelajaran Problem Based Learning menjadi solusi mengatasi permasalahan pada bab ekologi dengan sub bab pencemaran air.
  2. Pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Based Learning layak dijadikan praktek dalam pembelajaran berorientasi HOTS karena dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam melakukan transfer pengetahuan, berpikir kritis dan pemecahan masalah.
  3. Dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara sistematis dan cermat, pembelajaran dengan model Problem Based Learning yang dilaksanakan tidak sekedar berorientasi HOTS, tetapi juga mengintegrasikan PPK, Literasi dan kecakapan abad 21.

2. REKOMENDASI

Berdasarkan hasil praktek baik pembelajaran dengan Model Pembelajaarn Problem Based Learning, berikut disampaikan rekomendasi yang relevan.

  1. Guru seharusnya tidak hanya mengajar dengan mengacu pada buku siswa dan buku guru serta jaring-jaring tema yang telah disediakan, tetapi berani melakukan inovasi pembelajaran yang kontekstual sesuai dengan latar belakang siswa dan situasi dan kondisi sekolahnya. Hal ini akan membuat pembelajaran lebih bermakna.
  2. Siswa diharapkan untuk menerapkan kemampuan berpikir tingkat tinggi dalam belajar, tidak terbatas pada hafalan teori. Kemampuan belajar dengan cara ini akan membantu siswa menguasai materi secara lebih mendalam dan lebih tahan lama (tidak mudah lupa).
  3. Sekolah terutama Kepala Sekolah dapat mendorong guru lain untuk ikut melaksanakan pembelajaran berorientasi HOTS. Dukungan positif sekolah, seperti penyediaan sarana dan prasarana yang memadai dan kesempatan bagi penulis untuk mendesiminasikan Best Practice ini akan menambah wawasan guru lain tentang pembelajaran HOTS.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Menu