Rabies Tingkat Dewa

Tiang yang semenjak tadi menjulang, mantap hampir menyentuh ubun atap. Semakin gagah dengan tali seukuran ibu jariku yang terikat pada lubang besi tanam di belakang ranjang kayu lapuk. Lantas, kumasukkan ke dalam lubang tiang tersebut. Otakku saat ini bukan ingin berlatih menjadi pengibar bendera pada saat upacara hari Senin seperti yang dilakukan teman-temanku atau membuat praktikum trigonometri yang memuat sin, cos, tan atau apalah namanya. Dengannya, nilaiku terus saja telur ayam tak sempurna. Setidaknya, orang sekitar tak mengetahui apa yang akan kukalukan demi pengakhiri sebuah dilema kehidupan. Menghambat jaringan pusat saraf secara terus-menerus, hingga akhirnya mendapat gelar sebagai pemuda kendat.

Ya, begitu heroiknya diriku berani menantang malaikat pencabut nyawa untuk mengambil raga sebelum waktunya. Senjataku untuk melawan malaikat hanyalah seutas tali kuat bercampur kekesalan dan kenekatan. Ditambah penyakit gagal ginjal yang menyerangku semenjak empat tahun silam.

Kuberdiri di atas papan lapuk yang ditindih kuat dengan rongsokan eletronik di gudang dekat perumahanku. Nafas yang mulai gelisah tak menyurutkanku menggeser satu demi satu kaki yang berat rasanya. Beberapa tikus terdiam melihat hancurnya perjalanan yang seharusnya penuh dengan puing-puing kebahagiaan.

Kuangkat kaki kananku yang mulai keluar dari area titian kayu. Ujung kakiku bergoyang kekanan-kekiri seakan akan menuntuk untuk membatalkan aksi gila ini. Sadar tiba tiba ku melihat nama dalam pandangan buram. Nama yang maknanya menunjukkan betapa cantik paras serta akhlaknya. Siti Khodijah, ibuku.

Ibu, orang yang entah bisa kukatakan sebagai manusia tak pandang jasa atau manusia terkena sakit jiwa level dewa. Ialah orang yang melahirkanku dan menyayangiku hanya sembilan bulan didalam kandungan. Namun tanpa sembilan bulan itu, seluruh lekuk tubuhku tidak akan tercipta jika ia tidak menjagaku, merawatku, memberi vitamin untukku. Namun kehadiranku sebagai sesosok perempuan dan perekonomian yang betul-betul-betul nelangsa membuat ia dengan kejam membuangku ke pinggiran tempat pembuangan sampah. Ia membalutku dalam lilitan selendang usang dan meletakkan di dekat ban mobil sampah yang pagi buta berjalan mengelilingi kota mengangkut sampah masyarakat.

Namun, beruntungnya diriku, seseorang yang sejak awal menjagaku dari kerasukan iblis gila ibu yang terus saja memberikan motivasi dan kasih sayang yang tidak kalah indah oleh ibu dulu. Ialah ayahku yang bernama Khalid, pria setengah buta dengan kondisi cacat kaki memungut dan membawaku kembali dengan kaki tertatih-tatih. Hujan deras berteman petir tak melenyapkan tekad tanpa imbalan seorang ayah. Sesampainya dirumahpun, cemoohan maut dari ibu tak habis menhunjam telinga yang sedikit dungu hingga ibu tak peduli lagi.

“Terserahmulah mau merawat anak yang tak kuharapkan itu!” ucap ibu lalu pergi entah kemana. Namun 10 tahun berselang, ibu mendatangiku dengan sejumlah harta kekayaannya demi membawaku kembali dalam dekapannya. Ayah menolak pelan sebab asma telah mengontol kemampuannya. Namun ibu terus menawarkan permintaan dan ayah teus menolak permohonan itu hingga akhirnya ibu  geram,lalu langsung menarik tangan ayah sekuat otot hingga kepala ayah berdarah terbentur lantai.

“Sekali lagi kau menolak, hidupmu tak lagi lama!” bentak ibu. Hatiku rapuh seketika melihat iblis ibu bahagia keluar lagi dari tidur pulasnya. Ayah yang mulai tak bisa berdiri lagi membuat nafasnya tambah tersendak. Hingga ku lari sekencang angin sambil berlinang air mata dan kini aku akan menghakimi hidupku sendiri. Tiba-tiba pintu terbuka keras dan ibu melihat sendiri aku, manusia hina teramat oleh ibu, berdiri diatas kayu lapuk dan…….

Diriku mundur perlahan melihat ibu mengeras tangisnya sambil berderas air mata namun kayu itu memilih mengakhiri drama ini dengan membelah diri dan tergantunglah diriku sambil meronta-ronta melihat akhirnya malaikat maut tiba dengan senjata pencabut. Ibu histeris melihatku namun itulah ibuku, hanya bisa berucap namun tak dapat bertindak. Hingga aku kalah taruhan dengan si malaikat bernafas senggal dan perlahan, mataku memerah dan kabur. Hanya selarik nada tangis ibu masuk sebelum semuanya tak nampak.

“Gelap……. segelap hidupku tanpa pahlawan. Ayah, jaga dirimu” bait terakhir yang kupesan lewat mimpi.

 

Ainul Yakin

Kraksaan, 16 Oktober 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Menu