Naif 

Apa rotasi selalu berporos pada keadaan yang begitu saja? Tidak menutup kemungkinan agar tetap stay pada suatu keadaan yang kita anggap menyenangkan? Kadang, aku enggan selalu berproses pada titik yang kadang di atas, di tengah, atau di bawah sekalipun. Bisakah kehidupan mandek di tempat yang paling kusuka—bertemu denganmu, misalnya.

Rindu itu lebih dingin dan beku daripada salju di kutub utara. Rindu yang berselang dengan jarak dan harus bernegosiasi dengan waktu adalah perintah yang sama sekali tak kau tahu sesiapa Tuannya. Rindu itu seringkali mencambuk para pengintai, mesti tak banyak lazim untuk diartikan bahagia. Rindu itu luka yang darahnya tak pernah kulihat secara pasti, serta tak turut hadir di jemari malam yang kubaca merdu dengan tangisan. Rindu itu, ya…, rindu itu sendiri!

“Logika yang mana, yang kau pakai selama ini, hingga akhirnya mengatakan rindu adalah paling setia pada diri manusia?”

Masih kuingat benar segala tatap yang hambar kali itu. Kau menawar marah pada wajahmu yang amplitudo dengan getaran ingin menggertak. Kusodorkan sebuah kaktus yang pucuknya merah, lengkap dengan pot hitam kepadamu. Kemudian, aku bergegas menjauhi tempatmu berdiri.

“Kau belum menjawab pertanyaanku, Ra!” katamu lagi dengan lantang.

Langkahku terhenti, tepat di dua langkah pada kaki kiri. Hendak kubalikkan badan, tapi nyaliku terlalu besar untuk mengecilkan hati.

Selamanya, kebenaran hanyalah milik yang benar. Tak melulu kau juga benar, meski usiamu dua tahun di atasku. Terkadang, aku menjadi adik bagimu, nyatanya aku adalah teman yang hanya mau duduk di samping kirimu ketika di kelas; sementara samping kanan, depan, dan belakangmu adalah perempuan-perempuan lain yang kuanggap kawan.

Kuembuskan napas lemas, kau barangkali mendengarnya. Hanya saja, suara kita ditelan keheningan yang sama sekali tak kita ingini.

Maaf, kataku dalam hati, penuh harap kau mengerti.

“Tidak apa-apa. Lain kali, jangan membuatku khawatir dengan izin kepergianmu.”

Seketika kubalikkan badan ke arahmu. Wajahmu samar-samar terlihat di balik jendela kereta api. Aku di peron, tepat pertama kali kudengar suaramu kali itu.

Hanya tiada….

Shofiyah

Kraksaan, 17 Oktober 2019

Gambar dikutip dari : https://pixabay.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Menu