Phobia

 

Semenjak kejadian itu, ia lebih sering menyendiri. Entah apa yang ada dalam pikiranya? hayalah kabut misteri bagi dirinya. Ia seakan tak lagi punya tujuan dalam hidupnya. Waktu itu, ia masih sangatlah belia untuk menerima semua kejadian yang menimpanya. Waktu terasa sangat cepat baginya saat kedua orang tuanya tega meninggalkannya pada seorang perempuan tua yang membesarkannya. Perempuan tua itu tak lain adalah Zulaikha, saudara kandung ayahnya. Ia membesarkan gadis kecil itu dengan penuh kasih sayang layaknya kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Kini gadis kecil itu tumbuh menjadi seorang wanita dewasa yang memiliki wajah putih cantik berseri dengan kerudung yang merapikan rambutnya, perempuan itu bernama Rahmi.

“Rahmi, tolong buka pintunya, Nak!” kata ibu paruh baya itu dengan suara parau.

‘”Iya, Bu, sebentar. Rahmi lagi makai kerudung,” ia segera merapikan kerudung yang menyembunyikan rambutnya itu. Lantas, ia bergegas kearah pintu, dengan pelan ia menarik gagang pintu rumah sederhana itu.

“Aih…, anak ibu kelihatan cantik sekali deh,’” goda Ibu.

“Enggak kok, Bu. Rahmi baru saja mandi.” Ia memapah ibunya ke dalam rumah. “ibu dari mana saja kok jam segini baru pulang? basah kuyup lagi. Ibu habis kehujanan, ya?” lanjutnya, dengan suara lembut.

“Eggak kok, Ibu tidak dari mana-mana,” ia duduk di kursi bambu tua itu.

“Lain kali, Ibu jangan terlalu malam, nanti kaluau Ibu sakit siapa yang repot?”

“Sudah jangan terlalu mencemaskan Ibu, Ibu baik-baik saja kok. Yang penting sekolahmu, lancar, Nak?”

“Tapi, Bu?’”

Segera ibunya memotong ucapannya itu’, “Sudahlah! sekarang kamu tidur nggih! besok kan kamu sekolah.”

Ia segera masuk kedalam kamarnya. Namun, ia tak segera tidur, ia masih memikirkan keadaan ibunya. Hingga tak terasa malam sudah merangkak semakin larut hingga tanpa ia sadari ia terlelap dalam tidurnya. ia tidur dengan pulas. Rupanya sang malaikat mimpi menjemputnya malam itu.

Matahari mulai menyingsing, pertanda malam sudah enggan menemaninya lagi. Si Ibu tua itu sudah siap dengan mukena. Ia segera mengambil air wudu. Selepas itu, beliau bergegas ke kamarku. Dibukalah pintu kamarku degan pelan tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Matanya memandangku yang masih sibuk dengan tidur pulas. Dengan penuh kelembutan ia membelai rambutku dan membangunkanku.

“Nak, subuh bangun?” beliau sedikit mengguncang badanku. Namun, aku tak segera bangun. Aku malah membetulkan selimut yang melindungiku dari hawa dinginnya subuh. Ia masih menugguiku. Sekali lagi dengan sabar ia membangunkanku. Namun, kau tahulah diriku. Aku paling malas kalau dibangunkan untuk shalat subuh. Karena kasihan dengan Ibuku, kupaksakan membuka mataku. Aku segera mengambil yang mukena yang kusimpan dalam lemariku. Kubasuh wajahku dengan air wudu. Rasa dingin mengerjapku tatkala kuusapkan air ke wajahku. Rrupanya, Ibuku sudah menugguku di depan pintu rumah. Di tangannya sudah siap sajadah. Beliau berteriak memanggilku. Aku segera bergegas menghampirinya. Selepas itu kami berdua berjalan beringan menuju musalla yang tak seberapa jauh dari rumahku.

Seuasai melaksanakan salat Subuh berjamaah di masjid. Kami sudah siap dengan kesibukan masing-masing. Aku berkemas untuk ke sekolah, sedangkan Ibuku bergegas menyiapkan alat-alat kerjanya. Aku berpamitan pada ibuku ‘tuk berangkat sekolah. Aku mencium tangan keriputnya itu.sejenak kupandang mata cemerlangnya. Kulambaikan tangan ketika kendaraan penjemput datang. sekilas senyumnya masih melekat di udara. Kuberharap semoga aku masih dapat bertemu dengannya lagi. Mengapa aku memiliki firasat yang tak sama sekali mengenakkan mengenai dirinya itu.

“Tidak! ini tidak mungkin. Ini tak mungkin terjadi, Ibuku tak mungkin meninggal, Bapak pasti salah orang,” teriakku histeris ketika seorang bapak-bapak mengabariku kalau ibuku mengalami kecelakaan dalam perjalanan pulang dari tempat kerjanya.

“Sudahlah Neng, terimalah kenyataannya kalau Ibu Neng sudah tiada.”

“Tidak, Pak. Bapak pasti bercanda kan?” ucapku masih tak percaya.

Aku mulai kehilangan keseimbangan tubuhku. Tubuhku ambruk, keadaan semuanya gelap. Tiada cahaya sedikit pun yang menerangiku. Semuany hitam pekat. Tak seberapa lama kemudian, terdengar suara halus memanggilku. Sseketika, bulu kudukku berdiri semua. Aku celingukan mencari sumber suara itu. kutelusuri satu persatu sudut tempat itu, rupanya sura itu berasal dari belakangku. Segera kubalikkan badan. Aku terbelalak saat kulihat cahaya putih yang berasal dari tubuh seseorang. Cahaya itu semakin lama semakin meredup dan dapat kulihat denga jelas Ibuku.

“Ibu…,” teriakku sambil berlari menghampirinya. Suaraku hampir putus karenanya. Ia hanya tersenyum kepadaku dengan senyum khasnya.

“Ibu kenapa Ibu pergi meniggalkanku?” ucapku. Tangisku pecah karenanya.

“Nak, kuatkan hatimu. Ikhlaskan Ibu pergi. Maafkan Ibu ya Nak!”

Selesai berkata begitu ia lenyap entah ke mana. Aku berusaha untuk mencarinya, tapi nihil. Sesaat, aku rasa memasuki dimensi lain. Aku terus berteriak memanggil nama ibuku.

“Ibu, Ibu, Ibu…. Di mana Ibu? Jangan tinggalkan aku sendiri, Bu!”

Aku terisak. Beberapa saat kemudian, sebuah sentuhan lembut hinggap di tubuhku. Aku terlonjak kaget karena sentuhan itu. Rupanya sentuhan itu bersal dari Novita, temanku. Ia mendekapku sangat erat sekali. Aku teringat kembali pada ibuku, aku kembali berteriak teriak. Aku meronta hendak melepaskan diri dari gengaman orang-orang yang mengerumuniku. Namun, sebuah tangan mengantarku pada sebuah keadaan yang membuatku tidur terlelap. Aku masih tetap memikirkan soal ibuku. Samar-samar kudengar percakapan orang–orang mengenai keadaanku saat ini. Dengan sedikit sisa tenaga yang kumiliki, aku mencoba untuk mengintip orang-orang di luar kamarku. Dengan hati-hati kudorong pintu kamarku. Lamat-lamat kudengar lantunan ayat Al-Qur’an menelusup dalam hatiku. Aku duduk di samping seorang ibu yang dengan khusyuk melantunkan surah yasin. Terdengar pula olehku suara isak tangis seorang perempuan. Aku bingung dengan semua ini, apakah yang sebenarnya terjadi?, entahlah semuanya hanyalah menjadi misteri yang mamuakkan bagiku. Tanpa kuhiraukan suara isak tangis itu, kubergegas mengambil wudhu dan segera kuraih mushaf kecil dari dalam laciku. Kulantunkan dengan tenang. Tanpa kusadari, air mataku mulai membasahi pipiku. Tak lama kemudian, seorang bapak-bapak menghampiriku dan mengatakan kalau jenazah ibuku sudah siap untuk diantarkan ke peristirahatan terakhir. Dengan hati hancur luluh lantah, aku mendampingi ibuku pada peristirahatan terakhirnya.

Prosesi pemakaman Ibuku berjalan cukup lancar, walaupun ada sedikit kendala yang menghalaunya. Tak selang berapa lama kemudian, prosesi pemakaman sudah selesai dilakukan dan orang-orang satu persatu meninggalkan peristirahatan terakhir Ibuku. Hanya tinggal aku dan beberapa perempuan saja yang masih bertahan di sana. Kini harus kuikhlaskan hatiku walau harus kujalani hari-hariku tanpa kehadirannya.

Imam Maulana

Probolinggo, 07 November 2019

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Fill out this field
Fill out this field
Mohon masukan alamat email yang sah.
You need to agree with the terms to proceed

Menu